MENJADI PEMIMPIN YANG QUR'ANI 

angel 30 Mei 2020 22:56:23 WIB

Seorang pemimpin yang Qur’ani tidak harus melantunkan atau mengucapkan al-Qur’an yang telah dipahaminya dihadapan orang banyak, tetapi terpancar dari semua pemikiran, sikap dan kebijakannya yang selalu dilandaskan pada al-Qur’an' sabagai sebuah bentuk keteladanan. Menjadikan al-Qur’an sebagai landasan pastilah juga mengikuti rasulullah sebagai sang penerima wahyu, bisa anda cermati bahwa al-Qur’an sendiri memerintahkan untuk ta’at kepada ajaran sang Rasul (Nabi Muhammad). Pemimpin dengan pengertian diatas dapat dikatakan sebagai pemimpin yang shalih yaitu pemimpin yang bertaqwa kepada Allah SWT. Seorang pemimpin yang Qur’ani harus memiliki kreteria yang telah disifatkan pada Nabi Muhammad karena Nabi Muhammad adalah teladan pemimpin umat sepanjang zaman, yaitu sifat sidiq, amanah, tablig dan fatonah. 

  1. SidiqSidiq maknanya menjunjung tinggi kebenaran. Seorang pemimpin wajib mentaati kebenaran sampai kapapun dan dimanapun, lepas dari sifat ini berarti sudah keluar dari kreteria pemimpin yang Qur’ani. Sifat ini ratusan tahun yang lalu telah dicontohkan oleh rasulullah dan para sahabat. Lantas bagaimanakah melihat diri kita, para pemimpin-pemimpin kita Indonesia tercinta ini, sudahkah memiliki sifat sidiq ini ? Mengingat sidiq itu artinya Benar Jadi seorang pemimpin pantang untuk berbuat dusta, apapun bentuknya bagaimanapun caranya berdusta atau berkata tidak benar bagi pemimpin qur'ani yang mempunyai sifat sidiq ini harus dihidari. Seorang pemimpin berdusta berarti berdusta atas orang banyak, jadi pemimpin berdusta itu dosanya lebih besar dibanding pendusta biasa.  
  2. AmanahAmanah artinya dapat dipercaya. jadi maknanya pemimpin yang memiliki sifat amanah perkataan dan perbuatannya itu selalu dapat dipercaya. Hakikat amanah itu sebenarnya adalah titipan  yang telah dipercayakan kepadamu, yang mana  titipan tersebut suatu saat akan di ambil oleh yang telah menitipkan nya serta akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban atas hal yang  dititipkan nya itu. semua yang ada pada diri kita adalah amanah mata kita, hidung kita, mulut kita, kaki kita, tubuh kita semua adalah amanah, masing masing akan dimintai pertanggungjawaban oleh pemberi amanah yaitu Allah SWT. demikian pula seorang pemimpin, kepemimpinan adalah amanah yang sangat besar, karena harus dipertanggungjawabkan dihadapan orang banyak dan kelak diakhirat juga harus mempertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT. Pemimpin yang amanah pada dirinya akan muncu sifat disiplin dan tanggung jawab, tanggung jawab terhadap amanah yang telah di bebankan kepadanya. Pemimpin yang amanah tidak suka ingkar janji atau berbohong, karena ia takut kepada Allah, takut atas siksa neraka kelak di akhirat. para
  3. TabligTablig secara bahasa berarti menyampaikan yaitu menyampaikan kebenaran, kebenaran yang pernah diterimanya kepada yang dipimpinnya. Menyampaikan pernyataan sesuai dengan yang ada, menyampaikan pernyataan dengan benar, menyampaikan keputusan yang semuanya dilandasi dengan kebenaran. Seorang pemimpin yang qur'ani tidak pernah menyembunyikan kebenaran yang diterimanya namun berani menyampaikan kepada masyarakatnya. Bukannya yang benar malah ditutup tutupi sedangkan yang salah disampaikan. Pemimpin yang mempunyai jiwa qur'ani akan menyampaikan kebenaran-kebenaran, menyampaikan kebijakan-kebijakan berdasarkan nilai nilai luhur alquran. 
  4. FatonahSecara bahasa berarti cerdas. seorang pemimpin harus memiliki kecerdasan, kecerdasan intlektual, emosional, dan kecerdasan sepiritual. Dengan kecerdasan intlektual seorang pemimpin akan berpikir untuk kemajuan, berpikir jauh kedepan berdasar tuntutan zaman, tentang teknologi dan membangun peradaban moderen yang islami. Dengan kecerdasan emosional seorang pemiempin akan memiliki sifat lebih terbuka dan tidak berfikiran kerdil, mau mendengar dan mempertimbangkan masukan yang lain, mau melihat kondisi dan situasi, mau merasakan keprihatinan yang lain, serta senantiasa berfikir dan melakukan tindakan bijaksana. Dengan  kecerdasan Spiritual seorang pemimpin akan bersifat jujur, adil, dan istiqomah dalam kebaikan, karena pemimpin merasa menyadari tentang pertanggungjawabannya didunia dan akhirat. 
  5. Berbudi Luhur

Seorang pemimpin harus mempunyai budi pekerti yang luhur. Bisa melihat Papan, Empan dan adepan. Menghormat pada yang lebih tua, juga menghormati pada yang lebih muda.

Tidak melakukan Budi ashor yang membuat dirinya dan harga dirinya jatuh.

 

Seorang pemimpin hendaknya mengikuti falsafah Jawa:

Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tutwuri handayani.

Bisa memberikan contoh dan menjadi contoh yang baik, bisa berkarya bersama dengan instansi kerjanya, memberikan dorongan kepada warga masyarakatnya untuk bisa lebih maju dan giat untuk bisa mandiri.

 

Selanjutnya.

Mengingatkan kembali kepada seluruh perangkata desa tujuan utama menjadi perangkat yaitu mengabdikan dirinya untuk masyarakat dan kemajuan desa Semanu.

Kembali mengingat sumpah yang diucapkan ketika menjabat, “untuk bekerja dengan sebaik-baiknya, seadil-adilnya dan sejujur-jujurnya.

Supayar Instropeksi diri apakah sumpah dan janji yang telah diucapkan telah ditepati dan dilakukan dalam rangka menjalankan tugas dan pengabdiannya di masyarakat.

Dukuh, Kasi, Kaur, Sekdes, Kades adalah pemimpin yang mendapat amanah dari Alloh SWt. Untuk bekerja dengan sebaik-baiknya, seadil-adilnya, dan sejujur-jujurnya tanpa memandang hubungan keluarga, tanpa melihat senang dan benci, tidak pilih kasih.

Diharapkan selalu mengedepankan musyarawah baik di tingkat RT, Padukuhan dan Desa dalam rangka menyelesaikan permasalahan yang ada.

Hendaknya selallul mengingat apa yang kita lakukan kelak akan diminta pertanggungjawaban di hadapan Allah Yang Maha Kuasa.

By : Sekdes

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Kode Keamanan
Komentar
 

Pencarian

Komentar Terkini

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Pengunjung

Lokasi Semanu

tampilkan dalam peta lebih besar